Profile
Berita
Berita
Business
Business
Kriminal
Kriminal
Olahraga
Olahraga
Opini
Opini
Politik
Politik
Radar Daerah
Radar Daerah
Radar Edukasi
Radar Edukasi
Radar Ekonomi
Radar Ekonomi
Radar IKN
Radar IKN
Radar Internasional
Radar Internasional
Radar Nasional
Radar Nasional
Radar News dan Iklan
Radar News dan Iklan
Radar Nusantara
Radar Nusantara
Radar Olahraga
Radar Olahraga
Radar Politik
Radar Politik
Radar Sejarah
Radar Sejarah
Radar Terkini
Radar Terkini
Radar Tni Dan Polri
Radar Tni Dan Polri
Trending
Trending

Sosialisasi Empat Pilar, LaNyalla Ajak Generasi Muda Maknai Pancasila Sebagai Navigasi Kehidupan Bangsa

Radar Nusantara, SURABAYA, – ||
Anggota MPR RI yang juga anggota DPD RI daerah pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyoroti cara pandang generasi muda terhadap Pancasila yang dinilainya kian memprihatinkan.

Ia menilai, melemahnya pemahaman tersebut menjadi sinyal serius bagi masa depan ideologi bangsa. Hal itu diungkapkannya, saat kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan tema “Pancasila Sebagai Navigasi Generasi Muda” yang digelar di Surabaya, Selasa (10/2-26).

LaNyalla mencontohkan fenomena yang belakangan ramai di media sosial, salah satunya tayangan YouTube yang menampilkan wawancara acak dengan siswa di sekolah. Dalam tayangan tersebut, sejumlah siswa tidak mampu menyebutkan sila-sila Pancasila secara lengkap dan berurutan.

โ€œYang membuat miris adalah ada beberapa siswa yang tidak hafal Pancasila,โ€ ujar LaNyalla.

Kondisi tersebut juga diperkuat, oleh hasil survei Setara Institute pada Mei 2023 terhadap siswa SMA di lima kota besar di Indonesia. Salah satu temuan menyebutkan, bahwa; 83,3 persen responden menganggap Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti.

Menurut Ketua DPD RI periode 2019โ€“2024 tersebut, temuan itu menunjukkan bahwa sebagian generasi muda tidak lagi memandang Pancasila sebagai sesuatu yang sakral.

โ€œArtinya, generasi muda mungkin tidak menganggap Pancasila sebagai karya para pendiri bangsa yang bersifat final, melainkan sebagai kesepakatan yang harus terus dibuktikan manfaatnya dalam kehidupan nyata,โ€ ungkapnya.

LaNyala juga menjelaskan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi persepsi tersebut. Faktor pertama, adalah; kesenjangan nilai antara teks Pancasila dan realitas yang dirasakan anak muda.

โ€œSila kelima bicara keadilan, tapi yang mereka lihat justru korupsi dan ketimpangan ekonomi,โ€ bebernya.

Faktor kedua, adalah; cara penyampaian Pancasila yang dinilai kurang relevan dengan kehidupan generasi muda. LaNyalla menilai, pendekatan yang terlalu teoritis dan formal membuat Pancasila terasa jauh dari persoalan nyata, seperti mencari pekerjaan dan tantangan hidup anak muda.

Selain itu, paparan ideologi global melalui media sosial juga turut membentuk cara pandang generasi muda.

โ€œMereka terpapar liberalisme, hedonisme, hingga paham keagamaan ekstrem yang sering menawarkan solusi instan atas masalah sosial,โ€ kata LaNyalla.

Ditegaskannya, kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut jelas merupakan persoalan serius bagi bangsa ini.

โ€œFenomena banyaknya generasi muda yang tidak memahami, bahkan tidak hafal Pancasila, adalah warning atau alarm bagi bangsa,โ€ tegasnya.

LaNyalla mengibaratkan Pancasila sebagai navigasi kehidupan berbangsa.

โ€œDalam bahasa gaulnya, Pancasila itu Google Map untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,โ€ tuturnya.

LaNyala juga menambahkan, bahwa; sejatinya nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan agama.

โ€œKalau agama itu tuntunan universal, Pancasila adalah panduan hidup berbangsa dan bernegara, dan keduanya tidak saling bertentangan,โ€ tegas LaNyalla.

Lebih lanjut ia menjabarkan, penerapan Pancasila dalam kehidupan generasi muda sehari-hari, mulai dari integritas dalam bekerja sebagai wujud sila pertama, hingga empati dan adab di ruang digital sebagai cerminan sila kedua.

โ€œSila ketiga itu tentang kolaborasi dan networking, sila keempat tentang keterbukaan dalam berdiskusi, dan sila kelima tentang etos kerja. Adil itu dimulai dari kontribusi terbaik yang kita berikan,โ€ paparnya.

Menurut LaNyalla, generasi muda tidak harus menjadi politisi dulu untuk mengamalkan Pancasila.

โ€œKalian cukup menjadi mahasiswa yang jujur, pelajar yang berprestasi tanpa menjatuhkan orang lain, dan pengguna media sosial yang berakal sehat. Itulah Pancasila dalam tindakan. Jadilah generasi yang cerdas secara digital, tapi juga kokoh secara moral,โ€ tandas LaNyalla.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan generasi muda agar selalu berfikir kritis dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Ia menilai media sosial kerap menyajikan informasi yang belum tentu benar dan dapat menyesatkan jika tidak disikapi secara kritis.

Pandangan senada disampaikan pula oleh Sekretaris Jenderal DPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, M. Diah Agus Muslim, yang menilai media sosial dalam lima tahun terakhir telah menjadi referensi utama yang paling mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

M. Diah menjelaskan, banyak pengguna media sosial berhenti pada informasi yang dibaca sekilas tanpa melakukan pendalaman atau pengecekan lanjutan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat generasi muda langsung berhadapan dengan berbagai persoalan dan nilai-nilai baru tanpa bekal pemahaman yang memadai.

โ€œAkibatnya, batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Dulu, yang benar terlihat benar dan yang salah kelihatan salah. Sekarang, semuanya seolah abu-abu,โ€ ujar M. Diah.

Diakuinya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.

โ€œKalau generasi kami dulu, relatif lebih jelas mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, tekanannya jauh lebih berat. Ini tidak mudah, tapi harus dihadapi bersama. Generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, generasi muda harus kembali ke Pancasila, menjadikan Pancasila sebagai navigasi kehidupan bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang menyesatkan,โ€ pungkasnya. (Red)

Sumber:
Biro Pers dan Informasi LaNyala.
www.lanyallacenter.id


Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Komentar Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

๐Ÿ  Berita Terbaru Lainnya
Radar News dan Iklan

Wamendagri Bima: Kolaborasi Desa dan Kampus Perkuat Kapasitas Kepala Desa

Ridwan Onchy
4321800 Views
30 Jun 2026

Ketum TP Posyandu Apresiasi Langkah Belu Mulai Registrasi Posyandu 6 SPM

Gilang Ramadan
95 Views
28 Jun 2026
Radar Daerah
Radar Nusantara
84 V | 03/07/2026
Kamal Saputra Prabowo KSP
75 V | 30/06/2026
Aulia Lia
81 V | 30/06/2026
Radar Nusantara
90 V | 30/06/2026
Derian Sapawi
49 V | 30/06/2026
Gilang Ramadan
88 V | 30/06/2026
Radar Nasional
Radar Internasional

Guinea-Bissau Tegaskan Dukungan Penuh atas Kedaulatan Maroko di Sahara

Robi Mabruloh โ€ข 87 Views
30 Jun 2026

Kawal Ratifikasi dan Implementasi IEU-CEPA, APINDO Dorong Joint Task Force

Ridwan Onchy โ€ข 71 Views
23 Jun 2026

James Bond Baru Masih Dirahasiakan, Amazon MGM Janji Pilih Aktor Dengan Hati-hati

Kamal Saputra Prabowo KSP โ€ข 59 Views
23 Jun 2026

Uni Eropa Hapus Baterai Tanam: Semua Smartphone 2027 Wajib User-Replaceable

Ridwan Onchy โ€ข 104 Views
21 Jun 2026

Bertemu Queen Mรกxima di Belanda, APINDO Dorong Kesehatan Finansial Pekerja

Ridwan Onchy โ€ข 78 Views
17 Jun 2026
Olahraga
Radar Ekonomi

Tutup Sarasehan KSTI 2026, Prabowo Dorong Riset dan Inovasi Jawab Tantangan Bangsa

Ridwan Onchy โ€ข 92 Views
28 Jun 2026
Politik
Robi Mabruloh
87 V | 30/06/2026
Harun Arrasid
62 V | 28/06/2026
Kamal Saputra Prabowo KSP
119 V | 20/06/2026
Ridwan Onchy
3800987 V | 17/06/2026
Ridwan Onchy
83 V | 21/05/2026
Robi Mabruloh
84 V | 19/05/2026
Radar TNI & Polri

Korem 132/Tadulako dan Warga Gotong Royong Bersihkan Gedung Juang Palu

Kamal Saputra Prabowo KSP
75 V | 30/06/2026
Radar Terkini

The Grip of the Wood and the Silence of the Stone

Dede Permana
129 Views
12 Okt 2026
© 2026 Copyright ยฉ 2026 Kma dan Radar Nusantara. PT Sanjaya Persada Pratama. All rights reserved