Radar Nusantara, Garut – Di tengah ambisi Indonesia menjadi negara maju melalui sektor pariwisata dan industri kreatif, sebuah diskursus krusial muncul mengenai ketahanan identitas nasional. Budaya Nusantara, yang selama ini dipandang sebagai aset ekonomi kelas dunia lewat kerajinan, kuliner, dan tradisi uniknya, kini menghadapi tantangan serius arus “Arabisasi” yg masiv.
Banyak pengamat sering salah fokus dengan menganggap kemajuan ekonomi (westernisasi) sebagai ancaman utama budaya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan pola yang lebih mengkhawatirkan. Contoh paling nyata adalah Afghanistan. Bangsa yang dulunya merupakan pusat peradaban Gandhara yang megah—perpaduan unik budaya Yunani, Persia, dan Buddha—kini kehilangan akar leluhurnya.
Penghancuran simbol-simbol peradaban kuno dan penggantian total tradisi lokal dengan standar identitas luar (syariat yang kaku) telah memutus mata rantai sejarah bangsa tersebut. Afghanistan menjadi pengingat pahit bahwa sebuah bangsa bisa “hilang jiwanya” bukan karena modernisasi, melainkan karena penghapusan jejak leluhur demi ideologi impor.
Fenomena serupa kini mulai dirasakan di Indonesia. Upaya penggantian budaya Nusantara dengan budaya Arab atau “Arabisasi” terlihat semakin sistematis di berbagai lini kehidupan. Hal ini dikhawatirkan akan:
- Menggerus Daya Saing Global: Jika keunikan visual dan tradisi lokal (seperti tarian, wastra, dan adat) hilang, Indonesia akan kehilangan daya tarik utama dalam kompetisi pariwisata dan ekonomi kreatif dunia.
- Krisis Identitas: Memutus hubungan dengan sejarah besar Majapahit, Sriwijaya, hingga kearifan lokal suku-suku Nusantara akan membuat generasi mendatang kehilangan pijakan karakter bangsa.
Menjadi negara maju tidak berarti harus menanggalkan identitas asli. Sebaliknya, kekuatan ekonomi Indonesia justru terletak pada kemampuannya mengelola “nilai tambah” dari budaya leluhur. Jika Indonesia gagal membendung arus penghapusan budaya lokal ini, kita berisiko mengalami nasib yang sama dengan bangsa-bangsa yang kehilangan jati dirinya.
Melestarikan budaya Nusantara bukan sekadar soal nostalgia, melainkan strategi bertahan hidup sebuah bangsa di panggung dunia.
Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












