Radar Nusantara – Panjenengan pasti ingat Macau, Monte Carlo, Las Vegas, dan Singapura. Inilah negara kaya raya hidup dari judi. Surganya kasino dunia. Sebentar lagi nambah satu, yakni Uni Emirat Arab (UEA). Negara super kaya ini akan menjadi negara judi pertama di jazirah Arab. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kasino Wynn Ras Al-Khaimah, proyek senilai USD 514,4 juta ekuitas dari Wynn Resorts yang akan berdiri megah di Al Marjan Island, Ras Al-Khaimah. Ini adalah bukti negara kaya raya seperti Uni Emirat Arab masih bisa tergoda oleh kilau dadu dan mesin slot. Target buka tahun 2027, dengan klaim lebih besar dari Wynn Las Vegas, resort ini diproyeksikan menghasilkan USD 5–8 miliar per tahun. Rasanya seperti sebuah eksperimen filsafat, apakah negara yang sudah bergelimang minyak dan emas masih membutuhkan roulette untuk menambah pundi-pundi? Jawabannya, ternyata, ya. Karena apa gunanya menjadi kaya kalau tidak bisa menambahkan sedikit drama ala Las Vegas di padang pasir?
UEA, yang selama ini dikenal sebagai surga pencakar langit dan mall raksasa, kini ingin menambahkan satu lagi atraksi, kasino resmi pertama di dunia Arab. Ras Al-Khaimah, emirat yang biasanya kalah pamor dari Dubai dan Abu Dhabi, tiba-tiba menjadi bintang baru. Dengan bantuan Wynn Resorts, mereka berharap bisa menarik wisatawan dari Eropa dan India, menciptakan ribuan lapangan kerja, dan tentu saja, menyalakan lampu neon yang berkilau lebih terang dari bintang di langit gurun. Semua ini dibungkus dengan istilah manis “integrated resort,” seolah-olah mesin slot hanyalah dekorasi kecil di antara restoran mewah dan spa eksklusif.
Tentu saja, ada pertentangan dari ulama konservatif. Judi tetap haram, dan tidak ada fatwa yang bisa mengubah kenyataan itu. Tapi pemerintah UEA lihai dalam retorika. Mereka jarang menyebut kata “kasino,” lebih suka istilah “gaming facility.” Seperti seorang filsuf yang mencoba menjelaskan, mencuri apel bukanlah mencuri, melainkan “redistribusi buah.” Dengan framing semacam ini, proyek tetap berjalan, ulama bisa menggerutu, dan investor bisa tertawa sambil menghitung laba. Rasanya seperti sandiwara moral yang dipentaskan di panggung internasional, di mana ekonomi dan agama saling beradu, tapi akhirnya uang yang menang.
Ironisnya, negara kaya yang sudah punya cadangan minyak, gas, dan investasi global masih merasa perlu mencari keuntungan dari perjudian. Seolah-olah miliaran dolar dari sektor energi tidak cukup, mereka ingin menambahkan miliaran dolar dari orang-orang yang kalah di meja blackjack. Filosofisnya, ini seperti pertanyaan kuno, apakah kebahagiaan sejati datang dari kekayaan, atau dari melihat orang lain kehilangan uang mereka demi hiburan? Wynn Ras Al-Khaimah tampaknya memilih jawaban kedua.
Namun, jangan salah, proyek ini bukan sekadar investasi finansial. Ia adalah strategi geopolitik-ekonomi. Dengan monopoli kasino di UEA, Wynn Resorts akan menjadi satu-satunya operator “gaming” untuk waktu yang cukup lama. Ras Al-Khaimah pun mendapat posisi unik sebagai destinasi hiburan kelas dunia, menyaingi Makau dan Las Vegas. Jika sukses, ini bisa mendorong negara tetangga, termasuk Arab Saudi, untuk mempertimbangkan liberalisasi hiburan. UEA sudah memulai, apakah tetangganya seperti Arab Saudi akan tergoda juga. Entahlah, wak.
Kasino Wynn Ras Al-Khaimah adalah cermin yang memantulkan wajah dunia modern, kaya tapi rakus, religius tapi pragmatis, konservatif tapi diam-diam ingin pesta. Ia adalah eksperimen sosial, ekonomi, dan moral yang dibungkus dalam arsitektur mewah dan janji keuntungan miliaran dolar.
“Bang, kenapa di kita tak mendirikan kasino juga, pasti menyedot ribuan tenaga kerja tu. Apalagi budak-budak sekarang suka ngeslot.”
“Hus..baru niat saja sudah didemo berjilid-jilid. Negara kita kan negara religius, tak boleh ada judi. Yang ada backing judi aja, wak.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













