Radar Nusantara, – Ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global memicu respons berbeda dari Indonesia dan Jepang dalam menjaga ketahanan pasokan minyak.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia masih aman untuk sekitar 20 hari. Pernyataan itu disampaikan menjelang rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Senin (2/3/2026), guna membahas dampak eskalasi konflik di Timur Tengah. Pemerintah juga berencana berkoordinasi dengan Dewan Energi Nasional untuk menjaga stabilitas pasokan dan mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia.
Situasi global memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan gabungan AS dan Israel. Jalur ini merupakan rute vital sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi global.
Di sisi lain, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 2 Maret menyampaikan bahwa Jepang memiliki cadangan minyak cukup untuk sekitar 254 hari atau 8,5 bulan jika pasokan terganggu. Pernyataan itu disampaikan di parlemen untuk menenangkan pasar di tengah meningkatnya risiko di Selat Hormuz.
Meski sejumlah kapal tanker Jepang menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz, dampak langsung terhadap pasokan domestik belum terjadi karena stok strategis yang besar. Namun, jika gangguan berlangsung lama, baik Indonesia maupun Jepang berpotensi menghadapi tekanan harga energi dan dampak ekonomi lanjutan.
Perbandingan ini menunjukkan perbedaan ketahanan cadangan energi kedua negara: Indonesia dalam hitungan minggu, sementara Jepang dalam hitungan bulan, di tengah ketidakpastian geopolitik kawasan Timur Tengah.
Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















