Radar Nusantara, Garut – Ditengah eskalasi chaos di Iran kemarin dalam demonstrasi besar dan infiltrasi barat, Turki menjalin hubungan dengan Iran secara erat. Pejabat atas Turki intens berkomunikasi dengan pejabat teras Iran selama demo besar kemarin.
Dilapangan, Turki ikut membantu memberikan informasi dan kordinasi dengan intelijen Iran, soal infiltrasi Milisi milisi dukungan Israel dan AS dari Irak.
Dengan provide intelijen seperti ini, Iran kemudian berhasil mengeliminasi semua milisi dukungan Israel yang ingin masuk ke Iran lewat perbatasan Irak.
Disisi diplomasi, Erdogan lewat Menlu nya Hakan Fidan terus menerus menekan gedung putih agar tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri Iran.
Erdogan sendiri beberapa kali ditengah berlangsung nya demonstrasi Iran menyampaikan statement, bahwa intervensi asing ke Iran tidak dapat diterima. Dan keamanan kawasan adalah fokus Turki.
Turki walaupun dekat dengan Barat, tapi terus memainkan peran positif untuk stabilitas kawasan dan pembelaan nya terhadap dunia Islam, khususnya Palestina dan Iran.
Erdogan paham betul, bahwa kejatuhan pemerintah Iran akan berdampak langsung kepada stabilitas kawasan dan juga berpengaruh langsung kepada Turki.
Tidak seperti banyak negara arab yang membenci Iran, Turki melakukan pendekatan berbeda. Pembelaan Erdogan terhadap Iran bukan sekedar pendekatan pragmatis, tapi lebih sophisticated dan ideologis.
Turki dengan Iran sama sama kekuatan hegemoni dan major player di kawasan itu. Mereka sama sama memiliki pengaruh yang kuat dan memiliki daya tawar sama sama kuat. Walaupun beda haluan dan beda konteks GeoPolitik.
Membiarkan Iran jatuh akan jadi beban GeoPolitik sangat berat buat Turki, kemudian sikap Erdogan yang firm soal stabilitas dan juga pembelaan terhadap Palestina. Turki berbeda pandangan tentang GeoPolitic dan punya posisi berbeda dengan Iran. Tapi Turki juga mengakui bahwa peran Iran dalam urusan Palestina juga sangat besar.
Saya telah menulis ratusan artikel khusus tentang Turki selama bertahun-tahun. Bahwa posisi Turki bukan posisi yang mudah secara GeoPolitik. Itulah kenapa Erdogan terlihat lemah dan tidak bisa berbuat banyak dalam konteks Palestina.
Beban GeoPolitic di pundak Turki terlalu besar sebagai mantan super power dimasa lalu. Kemudian lanskap politik dalam negeri Turki juga sangat berbeda.
Di dalam negeri, Turki menghadapi ancaman sangat besar dari oposisi, masa depan Erdogan tidak mulus, partai Erdogan sekarang bukan lagi partai terbesar di turki. Kemudian masa jabatan Erdogan yang sudah lebih 20 tahun mempengaruhi politik domestik Turki secara signifikan. Ada tingkat kejenuhan yang mulai muncul dan oposisi yang semakin menguat.
2028 nanti Erdogan mau gak mau harus mundur, dia sudah tidak bisa lagi maju sebagai capres. Partai AKP di turki terus tergerus efek konflik geopolitik dan konteks kawasan saat ini.
Jika Erdogan tidak hati hati dalam berselancar, bisa jadi Erdogan tidak akan sampai selesai ke garis finish 2028. Erdogan bisa lengser di tengah jalan. Dan upaya-upaya pelengseran Erdogan memang telah beberapa kali terjadi walaupun masih gagal.
Itulah kenapa posisi Turki serba salah, bukan Turki yang lemah, tapi beban geopoltik nya yang terlalu besar dan berat melampaui kemampuan dia memikul saat in. Israel dan AS pada dasarnya juga menginginkan Erdogan segera lengser dan AKP segera kalah.
Dan apabila Erdogan lengser, oposisi Turki akan mengubah Turki menjadi negara sekuler ekstrem yang kita tidak pernah lihat sebelumnya. Turki jika oposisi yang menang, akan berubah menjadi negara full aliansi barat bahkan akan menjadi aliansi Israel baru di kawasan itu. Hitungan plus minus untuk dunia Islam terlalu beresiko.
Itulah kenapa, Erdogan perlu sangat hati-hati melangkah, Turki tidak sama dengan Iran yang sejak awal telah memilih posisi anti barat dan blok timur. Turki secara defacto adalah blok barat walaupun kaki nya berdiri di dua sisi.
Mempertahankan Iran artinya ikut memperkuat posisi dunia Islam, terutama dalam konteks pembelaan terhadap Palestina dan keseimbangan kekuatan global di kawasan itu agar tidak totally dominated by Israel dan AS.
Turki dan Erdogan nyaris lebih memiliki visi pro dunia Islam ketimbang visi mempertahankan kekuasaan semata seperti visi kebanyakan negara arab lainnya yang lebih fokus kekuasaan daripada keseimbangan.
Selama Erdogan masih memimpin Turki, Erdogan pasti akan terus menerus menjaga keseimbangan kawasan dan adil dalam pembelaan terhadap Iran dan Palestina. Itu adalah posisi yang memang harus diambil Turki saat ini.
Erdogan sadar betul, bahwa jika Iran jatuh, maka Turki menunggu giliran. Turki tidak akan sanggup berdiri sendiri di depan hegemoni AS dan Israel di Asia Barat tanpa ada keseimbangan kekuatan lain seperti Iran.
Mencermati perkembangan global dan turbulensi GeoPolitik tidak cukup dengan pendekatan like atau dislike, atau pendekatan emosional pembelaan terhadap agama, suku, ras semata. Kondisinya sangat kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam baik teks maupun konteks nya. Agar benar-benar bisa menghasilkan kesimpulan dan keputusan yang tepat dalam setiap konteks konflik dan pergeseran Geopolitik.
***
Oleh: Tengku Zulkifli Usman
Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












