RS AR-ROZY Probolinggo Bakal Ganti Nama Sebab Kurang Relevan dengan Kearifan Lokal? Begini Penjelasannya..

Ridwan Onchy

Radar Nusantara, PROBOLINGGO, – Walikota LSM Lira Kota Probolinggo, Louis Hariona, memberikan catatan kritis terkait prosedur pemberian nama fasilitas publik di wilayah Kota Probolinggo. Hal ini disampaikan menanggapi polemik penamaan fasilitas pemerintah yang dibiayai oleh negara, salah satunya adalah Rumah Sakit Ar-Rozi.

Dalam keterangannya, Louis menekankan bahwa penetapan nama fasilitas umum tidak boleh dilakukan secara sepihak oleh kepala daerah, melainkan harus melalui tahapan yang transparan dan melibatkan partisipasi publik.

“Memberikan nama fasilitas umum itu biasanya harus melewati musyawarah warga atau pemerintah daerah berdasarkan nilai sebuah sejarah, baik itu sejarah nasional maupun sejarah lokal,” ujar Louis Hariona.

Menurut Louis, tujuan utama dari penamaan yang berbasis sejarah dan kearifan lokal adalah untuk memperkuat identitas daerah, menjaga ketertiban, serta membangun rasa persatuan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa regulasi di Indonesia telah mengatur agar penetapan nama dilakukan melalui Peraturan Daerah, Perda, atau Keputusan Bupati Walikota setelah mendapatkan persetujuan dari DPRD jika diperlukan.

Ia mencontohkan perubahan nama perusahaan daerah menjadi “Bahari Tanjung Tembaga” sebagai langkah yang tepat karena selaras dengan identitas geografis dan sejarah Pelabuhan Tanjung Tembaga di Probolinggo.

Secara spesifik, Louis mempertanyakan relevansi nama Rumah Sakit Ar-Rozi, yang saat ini digunakan. Ia menilai nama tersebut asing bagi telinga masyarakat lokal Probolinggo, dan tidak memiliki kaitan historis dengan kearifan lokal maupun tokoh daerah setempat.

“Masyarakat sini tidak ada yang tahu Ar-Rozi itu siapa. Tokoh apa? Tokoh agama atau tokoh kedokterankah?

Prinsip penamaan itu harusnya menggunakan bahasa daerah, legenda, mitos, atau kondisi geografi setempat,” tegasnya.

Louis membandingkan dengan RSUD dr Mohamad Saleh, yang memiliki landasan sejarah kuat karena menggunakan nama dokter yang berjasa di Probolinggo, atau penggunaan nama pahlawan nasional seperti Prof Hamka untuk nama jalan.

LSM LIRA Kota Probolinggo mendorong Pemerintah Kota dan DPRD, untuk lebih masif melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait arti dan latar belakang sebuah nama fasilitas publik. Louis menyatakan dukungannya jika ada wacana untuk mengganti nama Rumah Sakit Ar-Rozi dengan nama pahlawan daerah, atau tokoh yang memiliki kontribusi nyata bagi Probolinggo.

“Kalau ada rencana mengganti nama Ar-Rozi menjadi nama pahlawan daerah Kota Probolinggo atau pahlawan nasional, boleh-boleh saja. Karena menurut saya, nama Ar-Rozi saat ini tidak ada sangkut pautnya dengan kriteria kearifan lokal maupun nasional,” pungkas Louis.

Penulis: Aspari AR
Sumber: Louis Hariona (Walikota LIRA Probolinggo)


Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca