ITB Beri Pelatihan Serat Nanas: Dari Sampah Terabaikan menjadi Peluang Ekonomi Kreatif di Kabupaten Ketapang

Ridwan Onchy

Radar Nusantara, Kettapang – Tim Pengabdian Masyarakat ITB hadir di Ketapang, Kalimantan Barat, untuk menunjukkan ekonomi dapat tumbuh dari sampah yang terabaikan, yakni daun nanas yang diambil seratnya. Pengambilan serat nanas dapat dipraktikkan oleh warga masyarakat setempat dalam keseharian mereka untuk menciptakan produk ramah lingkungan yang mendukung produk berkelanjutan (SDGs). Pada program pengabdian ini, para pakar menyampaikan edukasi konsep eco design keberlanjutan dalam memproduksi kerajinan tangan.

Daun nanas merupakan bagian yang biasa dibuang begitu saja. Padahal, daun tersebut dapat diolah menjadi serat yang bernilai ekonomi. Serat nanas yang sudah diubah menjadi serat halus untuk bahan dasar produk kerajinan tangan akan bernilai lebih tinggi dibandingkan hanya dibuang dan menjadi limbah pertanian. Sayangnya, belum banyak yang mengetahui potensi ini, termasuk para petani di Kabupaten Ketapang. Selama ini, daun nanas dibuang, dibakar, atau dibiarkan membusuk, tanpa pernah diposisikan sebagai bahan baku industri kreatif.

Salah satu peserta pelatihan yang merupakan perajin kayu menyampaikan saat ini ekosistem sudah mulai rusak dan daun-daun seringkali dibuang atau dibakar tanpa tahu bahwa tanaman tersebut bermanfaat untuk bahan dasar kerajinan.

Mengusung judul “Penguatan Literasi Budaya Kreatif melalui Identifikasi Nilai dan Potensi Pemanfaatan Serat Nanas di Ketapang: Implikasinya pada Peningkatan Ekonomi Kreatif UMKM Berkelanjutan”, masyarakat mendapatkan pelatihan pengolahan serat nanas pada 27 – 28 Januari 2026. Tim program pengabdian masyarakat diketuai oleh Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., dengan tim yang terdiri atas Yani Suryani, M.Hum., Adi Supriadi, M.M., Evi Azizah Febriyanti, M.Hum., dan Sira Kamila Dewanti Amalia, M. Hum. Para pakar kriya ikut serta dalam penelitian ini, adalah Dr. Dian Widiawati, M.Sn. dari KK Kriya dan Tradisi, FSRD ITB dan Prof. Dr. Husen Hendriyana, S.Sn., M.Ds., dari FSRD ISBI Bandung. Program ini juga dihadiri oleh Perwakilan Desa dan Perwakilan Kabupaten Ketapang yang turut mendukung pelatihan bagi pengembangan UMKM. Desa yang terlibat dalam pelatihan ini di antaranya Desa Sungai Bakau, Desa Sungai Besar, Desa Pelang, Desa Baru, Desa Kali Nilam, Desa Sungai Melayu, dan Desa Pesaguan Kanan. Kecamatan yang terlibat, yaitu Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Delta Pawan, Kecamatan Melayu Raya, dan Kecamatan Benua Kayong.

Pada program ini, masyarakat diajarkan untuk mengurai serat daun nanas yang dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu cara manual dan penggunaan mesin dekotikator. Secara manual, serat dapat diperoleh melalui teknik pengerokan (scraping) dan proses retting atau pembusukan terkontrol. Pada program ini, masyarakat Ketapang diajarkan mendapatkan serat daun nanas dengan teknik pengerokan. Teknik pengerokan dilakukan untuk menguraikan daun. Setelah terurai, daun akan direndam semalaman hingga berubah menjadi putih. Serat daun nanas yang sudah berubah menjadi putih dapat diolah menjadi berbagai kerajinan, seperti sandal, topi, tas, kain tenun, dan lampu.

Materi yang disampaikan mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya literasi budaya dan kreativitas dalam memproduksi kerajinan tangan. Tanpa literasi budaya dan kreativitas, produk yang dihasilkan akan monoton dan tidak dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Pendampingan di Ketapang menunjukkan tantangan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada ketiadaan pengetahuan yang menghubungkan produk dan pasar. Ketika masyarakat memahami karakter nanas, teknik pengolahan nanas, serta potensi produk hasil serat nanas, masyarakat Ketapang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu jenis komoditas atau satu jenis kerajinan. Masyarakat mulai memiliki pilihan.

Keberadaan daun nanas yang dapat diolah menjadi serat telah menawarkan sesuatu yang lebih substansial kepada masyarakat, yakni pemahaman bahwa masyarakat Ketapang dapat menjadi produsen kerajinan tangan bernilai budaya, bukan sekadar pemasok bahan mentah atau menyisakan limbah pertanian. Oleh karena itu, limbah dan sampah tidak lagi dilihat sebagai beban. Limbah berubah menjadi bahan baku pengetahuan, kreativitas, dan masa depan ekonomi di Kabupaten Ketapang.


Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Komentar

Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca