Radar Nusantara, Status program nuklir Iran pada awal 2026 tetap menjadi pusat ketegangan geopolitik global, berfungsi ganda sebagai instrumen tekanan diplomatik sekaligus potensi ancaman militer.
Berikut adalah poin-poin kunci mengenai situasi tersebut:
Peningkatan Pengayaan Uranium: Hingga tahun 2026, laporan pemantauan internasional menunjukkan bahwa Iran terus meningkatkan cadangan uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian tinggi (60% ke atas). Meskipun belum mencapai tingkat senjata (90%), ambang batas teknis untuk beralih ke penggunaan militer semakin sempit.
Fungsi Alat Tawar (Bargaining Chip): Iran secara konsisten menggunakan kemajuan nuklirnya sebagai alat tawar untuk menuntut pencabutan sanksi ekonomi melalui forum seperti International Atomic Energy Agency (IAEA). Bagi Teheran, program ini adalah satu-satunya kartu as untuk memaksa Barat kembali ke meja perundingan dengan syarat yang lebih menguntungkan.
Eskalasi Ancaman Regional: Negara-negara tetangga dan Barat memandang kemampuan nuklir Iran sebagai ancaman terhadap stabilitas Timur Tengah. Kekhawatiran utama adalah terjadinya perlombaan senjata nuklir di kawasan tersebut jika Iran berhasil melakukan uji coba atau mencapai status negara ambang nuklir (nuclear threshold state).
Kebuntuan Diplomasi: Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir (JCPOA) seringkali menemui jalan buntu karena ketidaksepakatan mengenai mekanisme verifikasi dan cakupan sanksi yang harus dicabut.
Informasi lebih lanjut mengenai pengawasan nuklir global dapat diakses melalui situs resmi Dewan Keamanan PBB.
Eksplorasi konten lain dari Radar Nusantara
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












